Di semester VII nie, hubungan saya dengan sahabat2 fakultas Syari’ah dan Hukum tidak seakrab dulu, khususnya sahabat2 di Politik Islam (Atul, Santi, Qo2m) dan sahabat2 Peradilan Agama (Fatima, Asri, Avina). banyak alasan diantaranya karena sebagian mereka dah pada di sibukkan dengan tugas akhir yaitu Atul, Qo2m, Santi. tapi yang menjadi alasan utama dan paling utama dari semuanya, semua itu karena Faidah yang membuat saya berat hati dan punya segan untuk mengahargai perasaan dan pendapat dia. karena Fay juga sahabat2 saya segan maen. “katanya sicH githu”.
Dulu sebelum saya sekamar dengan dia, saya bebas dengan segala sikap saya. karena dulu sekamar berdua, saya Reguler dan teman saya NR so jarang bareng. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat lagi untuk urusan kayak gituan.
iya!!!sahabat2 Syaria’ah selalu bilang sama saya, bahwa saya sangat berubah, mulai dari sikap saya dan cara bertutur. Untuk acara kumpul bareng sampai daeng bareng di kotsan mewahnya Fatima, saya selalu menjawab “kalian sendiri juga tahu, bagaimana saya harus menghargai perasaan shohibati saya, saya gak mungkin meninggalkan dia sendirian di kamar, apalagi anak kamar saya yang dua adalah anak sunda so sering pulang”. spontan Fatima menjawab ‘iya Qom, tenang aja, setidaknya kalau Rien sakit kita tidak perlu khawatir lagi”.
Dulu hampir setiap hari saya selalu menyempatkan mampir ke kotsan mereka, bahkan untuk ukuran seminggupun saya gak nampak di depan mereka dengan berbagai berita terkini tentang kampus, mereka dah pada kangen dengan cerita-cerita seru saya. Kalau saya jarang maen ke kotsan mbak Fatim, baru nyampai pintu saja dia langsung menyambut.. “wooow kemana saja Rien gak pernah muncul, kayak orang ilang saja, saya kangen nich cerita2 dari kamu.”
Di banding mereka, di bidang akademik saya tidak sesukses dan sehebat mereka. Qo2m, Fatim, Faidah adalah calon2 The Best Student di kelasnya. dengan IP yang selalu berada di atas 3,7. waahhhhh. tapi saya tidak minder, dan sedikitpun tidak merasa lebih rendah dari mereka, bukannya saya sombong. jujur!!!!karena dalam dunia kampus, bagi saya mahasiswa berhak menentukan sikap untuk melakukan sesuatu yang menurutnya bermanfaat tentunya sesuai dengan Visi hidup masing-masing dari kita. Inti dari semua itu bahwa manusia dalam keserbabedaan dalam mencoreti tiap detik dari kehidupannya, tentunya hasilnya berbeda dan punya manfaat berbeda. memang harus beda, karena beda itu indah dan saling melengkapi.
Orang bisa sukses di dunia akademik yang rata2 mereka tekun belajar dan selalu berhadapan dengan kegiatan yang namanya “membaca or ya belajar”, belum tentu sukses di dunia persahabatan, dan dunia lainnya. Karena kesibukannya dengan kegiatan tersebut membawa dampak di sisi kehidupan yaitu egoisme tinggi. “ya intinya manusia tidak bisa sukses di semua bidang, harus ada satu prioritas hidup yang menjadi ciri khas.” Kalau sudah begitu, dan kita tahu bahwa masing-masing dari kita mempunyai potensi masing-masing, masih pantaskah kita menganggap diri ini tiada arti dan selalu berhayal menjadi orang lain yang belum tentu baik untuk karakter kita? kenapa kita tidak memulai untuk menghargai dan mensyukuri diri kita sebab keserbabedaan tersebut?? dan menghargai kelebihan mereka sebagai kelemahan pribadi dan juga sebaliknya kelebihan pribadi adalah kelemahan bagi mereka.
______–DARI mana lagi kalau bukan dari persahabatan, keterikatan emosional, saling mengasihi, belajar menghargai, ruangan jiwa ini terpenuhi???———

Tidak ada komentar:
Posting Komentar